Hakikat Tawazun Dalam Amal

Hakikat Tawazun Dalam Amal
ilustrasi foto

DALAM sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik ra diceritakan bahwa ada tiga orang mendatangi rumah istri Rasulullah. Mereka datang untuk menananyakan bagaimana Rasulullah menjalani kehidupan ibadahnya. Setelah mendapatkan penjelasan, mereka merasakan jawaban yang ada belum cukup memuaskan. Mereka mengakui pula bahwa ibadahnya selama ini belum mampu menandingi apa yang sudah dijalankan Rasulullah.

Mereka berkata : “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah SAW sebab beliau sudah diampuni dosanya yang telah lalu dan akan datang. Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya.” Kemudian yang lain berkata, “Aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka.” Sementara yang lain berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya.” Setelah mendengar perkataan ketiga orang itu, datanglah Rasulullah dan beliau bertanya “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunahku, maka bukanlah dari golonganku.” (HR Bukhari)

Mengapa Rasulullah melarang umatnya berlebihan dalam mengerjakan suatu amal? Ini disebabkan jika melakukan suatu amal berlebihan dikhawatirkan akan memberatkan atau membebankan umatnya. Maksud berlebihan tentu melakukan suatu perbuatan yang melampaui batas dan cara yang tak sesuai syariat Islam. Sedangkan berlebihan dalam niat beramal untuk berlomba-lomba dalam kebaikan justru dibolehkan dalam Islam, ini sesuai dengan firman Allah SWT:

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” ( QS. Al Maidah: 77)

Islam sesungguhnya agama yang sangat menekankan keseimbangan dalam kehidupan, jangan menganggap ibadah sebagai sesuatu yang menyulitkan diri tapi jangan pula menganggap remeh amalan ibadah. Tetaplah mengerjakan ajaran Islam sesuai petunjuk Al-Quran dan Hadis, sehingga mendapatkan ridho dan pahala dari Allah. Dalam hadisnya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang (mempersulit diri atau berlebih-lebihan) di dalam mengamalkan agama ini, kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). Maka berlakulah lurus kalian, mendekatlah (kepada yang benar) dan berilah kabar gembira dan minta tolonglah dengan Al Ghadwah (berangkat di awal pagi) dan ar-ruhah (berangkat setelah zhuhur) dan sesuatu dari ad-duljah (berangkat di waktu malam) “.( HR Bukhari)