Fir'aun Abad Ini

Fir'aun Abad Ini
Ilustrasi foto/Net

FIRAUN, ketika disebut nama ini siapakah yang tidak mengenalnya. Setiap zaman akan selalu mengenang nama ini. Bukan karena namanya yang indah, tetapi kata tersebut sangat terkenal. Al-Qur’an menyebutnya sebanyak 74 kali. Semua tak terlepas dari sebuah kesombongan, kekejaman, tirani, dan label jahat lainnya.

Walaupun seluruh dunia telah mencela, menghina, bahkan melaknat nama ini. akan tetapi firaun baru atau neo firaun akan tetap muncul kehadapan sesuai dengan zamannya. Dengan berbagai  model dan cara yang lebih dahsyat. Prakteknya tidak lagi dengan menggunakan pedang, cambuk, dan alat-alat penyiksa lainnya. Tapi menggunakan tipu daya atau kebohongan yang terus membodohi dan memiskinkan rakyat.

Banyak hak rakyat direbut dan dicuri secara diam-diam. Hukum menjadi permainan bagi para neo firaun untuk menutupi diri. Sehingga rakyat tetap saja dibuat percaya dan bergantung pada pribadi seperti itu. Apakah pribadi firaun ini yang disebut cerdas. Ataukah rakyatnya yang sangat mudah untuk diperalat, walaupun dengan nilai yang sangat rendah.

Apakah cerdas jika orang hidupnya bergelimpang harta, kemana-mana dengan mobil mewah, yang malah membuat ia terhina. Pikirkanlah, saat ini begitu banyak orang kaya, tetapi para tetangga bahkan saudara mereka hidup dalam kesulitan. Orang-orang kaya tersebut malah menutup mata dan telinga seolah tidak pernah melihat dan mendengar jeritan rakyat jelata yang butuh perhatian dan bantuan. Apakah cerdas adalah yang terkenal, namanya familiar ditengah masyarakat, orang yang sering berbicara, baik itu di mimbar atau tampil dilayar kaca. Banyak manusia abad ini yang pintar berkata, beragumen, dan beretorika, mudah menipu lewat keindahan berbicara dan wajah, tetapi tidak segan-segan memakan dan menelan mangsa (rakyat) dengan kata indah dan wajah rupawan itu.

Perhatikanlah para elit politik yang rajin dan pintar mengeluarkan kata-kata manis saat berkampanye, tetapi yang sebenarnya adalah seperti bisa, untuk membunuh saudaranya. Dalam sebuah riwayat dari Syadad bin Aus ra. Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Orang yang berakal adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Orang yang kurang perhitungan adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan bahwa Allah selalu mengampuni dan memaafkan dosanya.

Dalam riwayat lain Rasulullah saw. bersabda: Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan kelak setelah kematian. (HR. Tirmidzi)