Ekonomi Syariah Mengentaskan Kemiskinan

Ekonomi Syariah Mengentaskan Kemiskinan
Ilustrasi foto/Net

MISKIN atau kemiskinan merupakan problem setiap manusia bahkan kemiskinan sulit diatasi karena sebuah fitrah manusia. Sikap serba kurang dan sikap ingin hidup mewah adalah bukti bahwa kemiskinan selalu terjadi. Menilai manusia miskin saat ini jauh berbeda dengan zaman dahulu kala, dimana manusia miskin dikarenakan tidak punya uang belanja bahkan tidak bisa menyekolahkan anaknya. Tetapi saat ini manusia miskin bukan disebabkan fitrah ekonomi, tetapi karena sikap yang serba kurang, serba mewah dan serba ingin berlebihan.

Standar manusia miskin selalu berubah dan tergantung tempat, kondisi dan waktu. Manusia miskin saat ini masih bisa makan, beli baju dan kebutuhan pokok, tetapi mereka tidak punya pendapatan tetap dan pekerjaan yang bisa menghasilkan ekonomi secara teratur. Kondisi ini dialami semua negara, karena negara harusnya menjamin pekerjaan dan pendapatan penduduknya. Ekonomi Islam sebagai sebuah disiplin ilmu baru mencoba untuk memberikan kontribusi kepada kemiskinan negara yang tidak bisa diselesaikan oleh teori ilmu ekonomi klasik dengan mengandalkan sistem Kapitalisme ekonomi.

Ekonomi Islam memandang kekayaan alam dan kekayaan SDM harus dilakukan atau diinvestasikan untuk kepentingan manusia pada masa depan, bukan untuk diperjual belikan. Islam menganjurkan manusia untuk berinvestasi, berdagang dan berbisnis, bukan untuk menjadi buruh dan pekerja kasar. Islam juga memudahkan segala sumber rezeki baik dari sumber daya alam, maupun dari sumber daya manusia, karena pada hakikatnya rezeki dan kekayaan itu datangnya dari Allah bukan karena manusia. Ekonomi justru mendorong agar manusia bersikap rendah hati, tawadhu, kerja keras, tidak boros dan menjauhi perbuatan buruk yang menyebabkan kemiskinan. seseorang yang ingin kaya harus menghindarkan dari perbuatan zalim dan ketidakberdayaan, mengurangi perbuatan jelek dan memperbaiki perbuatan baik. Oleh karena itu, ekonomi islam menganjurkan agar kemiskinan terhindar, maka ada dua langkah yang harus dilakukan.

Pertama, Mengembangkan sumber daya manusia untuk kepentingan masa depan kehidupan, termasuk sumberdaya alam. Kedua, Mengharuskan manusia mentaati aturan Allah yang sudah dijelaskan dalam al-Qur’an dan As-Sunah, dimana aturan tersebut menjadikan manusia bahagia di dunia dan akhirat. Surat Al-A’raf ayat 96 menyebutkan: “Jikalau penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat- ayat kami itu, maka kami siksa mereka disebabkan apa yang mereka perbuat atau apa yang mereka usahakan.