Dua Macam Syirik

Dua Macam Syirik
Ilustrasi foto/Net

SIAPA pun yang tidak menyembah Allah Swt. maka dia dianggap kafir dan sombong. Barang siapa menyembah Allah tetapi juga menyembah selain-Nya, maka dia termasuk kafir dan musyrik. Barang siapa yang hanya mengabdi pada Allah saja, maka dia orang Muslim yang sebenar-benarnya. Menyekutukan Allah atau Syirik terdiri dari dua macam, yakni syirik besar dan kecil.

Syirik besar yaitu menyekutukan Allah dengan selain-Nya yang menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam. Lebih jelasnya, syirik akbar (besar) yaitu menjadikan tandingan atau sekutu terhadap Allah dalam hal beribadah, berdoa, takut, cinta, dalam memperlakukan tandingan itu jika memiliki derajat yang sama kepada Allah. Atau memperlakukan tandingan itu dengan perlakuan seperti halnya ibadah. Itulah syirik yang Allah haramkan atas pelakunya untuk memasuki pintu surga, dan baginya tempat di neraka kelak.

Syirik kecil ialah setia ucapan atau tindakan yang dinyatakan oleh syara bahwa termasuk perbuatan syirik, namun tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam. Lebih jelasnya, syirik ashghar (kecil) adalah seluruh perkataan dan perbuatan yang menjadi perantara kepada syirik besar, seperti bersumpah dengan selain Allah, riya, beramal tidak ikhlas karena Allah. Riya yaitu menampak-nampakkan (pamer) kebaikan agar dipuji orang. Nabi menjelaskan kekhawatirannya terhadap sahabatnya akan bahaya riya, karena riya itu paling banyak dan disenangi oleh jiwa manusia dan paling mudah dilakukan.

Sahabat yang imannya sangat kokoh saja diperingatkan dengan kekhawatiran Nabi akan bahaya syirik kecil (riya) itu pada mereka, maka umat Islam hendaknya lebih khawatir adanya syirik besar dan kecil karena lemahnya iman. Sedangkan berziarah kubur yang sampai memberlakukan kuburan sebagai jenis yang diibadahi dan dimintai tolong itu jelas salah satu jenis kemusyrikan.

Syirik kecil (ashghar) pun sangat ditekankan untuk dihindari, apalagi syirik besar (akbar). Maka perbuatan yang menjurus kepada kemusyrikan wajib dihindari. Demikian pula ziarah kubur yang menjurus kepada kemusyrikan, wajib pula dihindari. Ketegasan Nabi yang pernah melarang ziarah kubur itu kaitannya adalah dengan dosa yang paling besar yakni syirik. Selama seseorang belum bisa membersihkan dirinya dari kemusyrikan dalam hal ziarah kubur, maka larangan berziarah kubur tetap berlaku pada orang itu. Dan hal itu tidak dilarang jika memang sudah jelas ziarah kuburnya itu tidak tercampuri kemusyrikan sedikit pun.