Dibalik Rahasia Shaum

Dibalik Rahasia Shaum
Ilustrasi foto/Net

IBADAH shaum atau puasa diwajibkan bagi orang beriman yang memiliki banyak keutamaan dan manfaat, salah satunya untuk melatih dan meningkatkan kesadaran spiritual dan kepekaan sosial. Namun, banyak diantara kita berpuasa, tanpa menghayati makna dan keutamaannya, jadi hanya merasakan rasa haus dan dahaga.

Puasa merupakan rahasia di antara hamba dan Penciptanya. Niat dan pelaksaannya yang tersembunyi, hanya Allah swt sajalah yang mengetahui dorongan hatinya tersebut. Kita mendekatkan diri kepada Allah dengan mengikat hawa nafsu, makan atau minum dan hubungan seksual. Syahwat itulah yang paling sulit dihindari oleh bani adam atau manusia pada umumnya.

Rasulullah saw. bersabda : “Puasa adalah perisai. Maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbuat bodoh. Apabila ada orang lain yang memerangi atau mencacinya, hendaklah dia katakan, ‘Aku sedang puasa’ (dua kali). Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia rela meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

Puasa juga berfungsi untuk menyempitkan perjalanan darah. Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa darah itu adalah arus perjalanan setan. Setan mengalir di tubuh kita, sebagaimana darah mengalir dan membiasakan sifat marah. Maka puasa itulah yang mencegah atau mengurangi tabiat itu dan puasa yang dapat mengarahkan nafsu syahwat.

Ada dua kesenangan bagi orang yang berpuasa. Sebagaimana yang telah kita ketahui dari hadist Rasulullah saw, yaitu kesenangan di kala berbuka dan kesenangan di kala bertemu Allah di padang Mahsyar. Kegembiraan di kala berbuka, sungguh sangat nyata. Sesudah sekian jam kita menahan diri dan kita menahan hawa nafsu tentulah keinginan kita kepada makanan sungguh sangat kuat, benar-benar tak terkira kenikmatannya.

Kegembiraan di saat berhadapan dengan Allah swt, tentulah tidak dapat kita bayangkan, karena itulah saat yang paling ditunggu di padang mahsyar nanti. Karena tidak ada lagi yang dapat memberikan pertolongan dan mengampuni segala dosa dan khilaf kita, selain Allah Swt.

Allah Swt berfirman, yang artinya: “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’. Dan al-Qur’an pula berkata, ‘Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya’. Beliau bersabda: ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan’.” (HR. Ahmad, Hakim dan At- Thabrani)