Derajat Keikhlasan Seorang Hamba

Derajat Keikhlasan Seorang Hamba
Derajat Keikhlasan

  IMAM Abu Hamid al-Ghazali berkata di dalam mukadimah kitab An-Niyyah Wal-Ikhlas Qash-Shidq, berisi seperempat bahagian dari kitab Al-Ihya : “Dengan hujjah iman yang nyata dan cahaya al-Quran, mereka yang mempunyai hati mengetahui bahwa kebahagiaan tidak akan tercapai kecuali dengan ilmu dan ibadah. Semua orang pasti akan binasa kecuali mereka yang berilmu. Mereka yang berilmu pasti akan binasa kecuali yang aktif beramal. Semua orang yang aktif beramal akan binasa kecuali mereka yang ikhlas.”

     Amal tanpa niat merupakan kesia-siaan, niat tanpa ikhlas adalah riya, yang berarti sama dengan kemunafikan dan tidak berbeza dengan kederhakaan. Ikhlas tanpa kejujuran dan perlaksanaan adalah sia-sia. Allah SWT berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”  (al-Furqan: 23). Sahl bin Abdullah at-Tustary juga berkata : “Semua manusia seperti orang yang mabuk kecuali mereka yang berilmu. Semua orang yang berilmu adalah orang yang bingung kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya.”

                 Beliau juga berkata : “Dunia ini adalah kebodohan dan kematian, kecuali ilmu. Semua ilmu merupakan hujjah ke atas pemiliknya kecuali yang diamalkannnya. Semua amal akan sia-sia kecuali yang dilaksanakan dengan ikhlas.

Ikhlas itu dalam bahaya yang besar sehingga tetap berakhir dengannya.” Seorang bijak berkata : “Ilmu itu laksana benih, amal laksana tanaman dan airnya adalah ikhlas.”

             Ibn 'Atha'illah berkata dalam Al-Hikam : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai amal yang mendua, dan begitu pula hati yang mendua. Amal yang mendua tidak diterima dan hati yang mendua juga tidak akan diterima.” Amal yang tidak disertai ikhlas adalah ibarat gambar yang mati, dan raga tanpa jiwa.

Allah hanya menginginkan hakikat amal, bukan rupa dan bentuknya. Oleh karena itu, Dia menolak setiap amal yang pelakunya tertipu dengan amalnya.

          Dalam hadis shahih riwayat Abu Hurairah, bahawa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan rupa kamu, tetapi Dia melihat kpd hati kamu." Baginda memberi isyarat ke arah hati dengan jari-jari tangannya lalu berkata, “Takwa itu letaknya di sini." Dan Baginda memberi isyarat ke arah dadanya sebanyak tiga kali.”  (HR Imam Muslim). Allah berfirman tentang mereka yang menyembelih hewan qurban, yaitu yang dilakukan oleh mereka yang menunaikan haji dan umrah : "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan mu yang dapat mencapainya."   (al-Hajj: 37)