Dakwah Jalan Kami

Dakwah Jalan Kami

 BEBERAPA pakar mendefinisikan dakwah sebagai berikut:  Menurut Al-Khuli, dakwah ialah  ”Memindahkan umat dari satu situasi ke  situasi yang lain.” Sedangkan Syaikh Abdullah Balawi Al-Haddad menyebutkan,  ”Dakwah adalah mengajak, membimbing dan memimpin orang yang belum mengerti atau  sesat jalannya dari agama yang benar untuk dialihkan ke jalan ketaatan kepada Allah,  beriman kepada-Nya, serta mencegah dari apa yang menjadi lawan dari kedua hal  tersebut.” 

 

    Buya  Hamka  berkata,  ”Dakwah pada dasarnya  bermakna positif yang substansinya terletak pada aktivitas memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah perbuatan mungkar.”  Secara umum dakwah dapat diartikan sebagai suatu kegiatan umat Islam dalam mengajak atau menyeru umat manusia dengan menggunakan berbagi media dan metode dengan tujuan adanya suatu perubahan kondisi ke arah yang lebih baik.

    Dalam perkembangan selanjutnya dakwah berkembang menjadi suatu disiplin ilmu. Dengan demikian, perkembangan dakwah islam semakin semarak. Ilmu dakwah itu sendiri merupakan sejumlah pengetahuan tentang proses upaya mengajak manusia ke jalan yang benar meurut aturan Allah atau al-islam yang tersusun secara sistematis, logis, hasil pemikiran manusia dan objektif dari pengertian. Tersebut jelas sekali bahwa unsur manusia sangat dominan dalam ilmu dakwah. Disinilah peranan atau kemampuan seseorang dituntut untuk dapat memanfaatkan dirinya untuk dapat mengajak dan merubah diri dari lingkungannya kearah yang lebih baik atau dengan kata lain bahwa ilmu dakwah adalah ilmu yang mengajarka cara-cara mempengaruhi manusia dengan suatu seni atau teknik tertentu kepada suatu ideologi tertentu.

    Dakwah juga dapat dipahami sebagai proses komunikasi (tabligh). Setiap muslim, seperti juga Nabi saw, disuruh mengomunikasikan ajaran islam, betapapun pengetahuannya tentang islam masih sangat sedikit. Komunikasi itu dapat terjadi secara lisan, maupun tulisan. Komunikasi juga dapat terjadi secara individual maupun missal. Komunikasi juga dapat terjadi secara antarpersonal, secara face to face, dapat juga melalui media. Media yang dipakai pun bermacam macam, ada media cetak, media elektronik, maupun media yang lainnya.

    Sifat komunikasinnya juga bermacam-macam, ada yang persuasive, edukatif, atau yang lain. Dalam komonikasi dakwah harus dihindarkan komunikasi yang sifatnya pemaksaan. Karena hal itu bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai islam. Ada peristiwa yang menjadi bagian dari sejarah dakwah serta diabadikan dalam alquran, misalnya ketika Nabi Musa dan Nabi harun diperintahkan untuk mengiatkan fir’aun dengan cara yang halus (layinan). Nabi Muhammad saw sendiri disuruh berlemah lembut dalam bergaul supaya tidak dijauhi olehumatnya.