Buah Cinta Keimanan

Buah Cinta Keimanan

DIKISAHKAN pada suatu malam salah satu rumah di kota Madinah, seorang pencuri memasukinya, dia mencari segala macam benda berharga di rumah itu, rupanya dia tidak menemukan apapun, yang nampak hanyalah seorang laki-laki yang tengah khusyu menunaikan shalat tahajud. Dia mungkin tidak sadar bahwa rumah itu, kediaman seorang ulama besar, yang juga sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Malik ibn Dinar. Kesal dengan kondisi di malam itu, ia pun bergegas untuk pergi segera agar tidak ketahuan oleh si pemilik rumah.

Di saat yang sama, mendengar suara mencurigakan di rumah, pemilik rumah yang sedang shalat lantas memperpendek bacaan suratnya. Tanpa rasa takut dengan kedatangan pencuri, tepat ketika pencuri hendak pergi, terdengarlah suara dari arah belakang “Assalamualaikum“. Mendengar suara lirih yang memanggilnya, si pencuri kaget karena aksinya diketahui oleh pemilik rumah, namun di sisi lain dirinya merasa aneh sebab yang diucapkan oleh sang pemilik rumah adalah ucapan salam, si pencuri itu kemudian menjawabnya “Waalaikumsalam”. Di hati pencuri ini berujar, sungguh mulianya akhlak pemilik rumah . Bahkan kepada orang yang berniat buruk di rumahnya sekalipun, ia mengucapkan salam. Lantas apa yang terjadi setelah pencuri itu menjawab salam sang imam ?

    Sang imam memulai percakapannya, “sesungguhnya engkau tiada mendapatkan barang sedikitpun dari kenikmatan dunia di rumahku, maukah aku tunjukan dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang sedang engkau cari di rumahku malam ini ?“ Tanpa berpikir panjang, entah seperti apa kondisi jiwa yang tengah menggejolak, serta merta pencuri itu menjawab “ya”. Seraya mengajaknya, si pemilik rumah ini kemudian berkata : “ kemarilah, ambillah air wudhu dari bejana ini dan dirikanlah sholat dua rakat .”

Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (Al-Insaan: 25-26). Selesai menunaikan shalat untuk kedua kalinya pencuri itu dibuat kaget, karena sang imam tengah menyiapkan hidangan makan dan menggelar karpet lusuh di lantai. Ia bertanya maksud hati menyediakan makanan di malam seperti ini.  Memahami dan tersadar dengan situasi yang ada, jiwa seorang manusia yang kehilangan orientasi arah hidup, rindu akan kehangatan waktu dengan Rabbnya, Imam Malik ibn Dinar mempersilahkan saudara seimannya itu untuk tinggal selama tiga hari di rumahnya. Lelaki tersebut akhirnya bertaubat kemudian berkata saat kembali kepada teman-temannya, ”Demi Allah sungguh pemilik rumah itu telah mencuri hati saya sebelum saya berkesempatan mencuri hartanya“.