Bintang Muda Yang Mulai Bersinar

Bintang Muda Yang Mulai Bersinar
Ilustrasi foto/Net

KETIKA umur baginda Nabi mulai menginjak 35 tahun, saat itu terjadi banjir dahsyat mengalir dari gunung ke Kabah. Sehinggga, tak satu pun rumah di Makah selamat dari kerusakan. Dinding kabah mengalami kerusakan, kaum Quraisy memutuskan untuk membangun Kabah tapi takut membongkarnya. Walid bin Mughirah, orang pertama yang mengambil sebilah besi, mencoba meruntuhkan dua pilar tempat suci tersebut. Ia merasa takut dan gugup, orang Mekah menanti jatuhnya sesuatu, tapi ketika ternyata Walid tidak menjadi sasaran kemarahan berhala, mereka pun yakin bahwa tindakannya telah mendapatkan persetujuan Dewa.           

Mereka semua akhirnya ikut bergabung untuk meruntuhkan bangunan itu. Pada saat pembangunan kembali Kabah, diberitahukan pada semua kaum sebagai berikut, “Dalam pembangunan kembali Kabah, yang dinafkahkan hanyalah kekayaan yang diperoleh secara halal. Uang yang diperoleh lewat cara haram atau melalui suap dan pemerasan, tak boleh dibelanjakan untuk tujuan ini.” Terlihat bahwa ini ialah ajaran para Nabi, dan mereka mengetahui tentang kekayaan yang diperoleh secara tidak  halal, tetapi kenapa mereka masih melakukan hal demikian, inipun terjadi di zaman ini, di Indonesia, rakyat ataupun pemerintahnya mengetahui tentang halal dan haramnya suatu harta kekayaan atau pun perbuatan yang salah dan benar. Akan tetapi, mereka masih saja melakukan perbuatan itu walaupun tahu itu adalah salah.

Ketika dinding kabah telah dibangun dalam batas ketinggian tertentu, tiba saatnya untuk pemasangan Hajar Aswad pada tempatnya. Pada tahap ini, muncul perselisihan di kalangan pemimpin suku. Masing-masing suku merasa bahwa tidak ada suku yang lain yang pantas melakukan perbuatan yang mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena hal ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari. Masalah mencapai tahap kritis, akhirnya seorang tua yang disegani di antara Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Makhzumi, mengumpulkan para pemimpin Quraisy seraya berkata,”Terimalah sebagai wasit orang pertama yang masuk melalui Pintu Shafa.” (buku lain mencatat pintu as-salam). Semua menyetujui gagasan ini, tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu. Serempak mereka berseru, “Itu Muhammad, al-Amin, kami setuju ia menjadi wasit!”

Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan selembar kain. Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain itu dengan tangannya sendiri, kemudian meminta tiap orang dari empat sesepuh Mekah memegang setiap sudut kain itu. Ketika Hajar Aswad sudah diangkat ke dekat pilar, Nabi meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan cara ini, Beliau berhasil mengakhiri pertikaian Quraisy yang hampir menjadi peristiwa perkelahian.