Antara infak Dan harta

Antara infak Dan harta

             USTADZ Budi Ashari, Lc menuturkan bahwa pada era Rasulullah Saw, para sahabat tidak pernah mengabaikan seruan untuk berinfak. Mereka berlomba-lomba bukan bermaksud riya, tetapi mereka ingin memberikan apa yang terbaik dari yang mereka miliki. Mereka selalu menantikan kesempatan untuk bertransaksi dengan Allah, transaksi yang tak pernah kenal rugi, dimana surga menjadi jaminannya. Sebagaimana dalam firman Allah, “Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Quran) dan melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi (29). Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri (30).” (QS. Fathir: 29-30). Firman Allah tersebut mengandung arti bahwa begitu tingginya nilai berjuang dengan harta di mata Allah.

             Tingginya nilai berjuang di jalan Allah dengan menginfakkan harta, dikarenakan manusia memiliki tabiat yang sangat mencitai harta. “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Mutafaqun alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048). Dalam Al-Quran, kata harta didahulukan sebanyak 8 kali dari pada jiwa. Ketika Allah menyandingkan dua hal, maka akan ada sebuah hikmahnya, yaitu manusia mencintai harta melebihi dirinya. Hal ini menjelaskan mengapa jihad dengan jiwa akan menjadi mudah apabila terbiasa dengan infak hartanya. Apabila dengan menginfakkan harta sudah tidak lagi menjadi persoalan berat, apalagi dengan menginfakkan jiwanya. Ini mencerminan bahwa orang yang diridhoi oleh Allah adalah orang yang ikhlas untuk menafkahkan hartanya, maka ia tak mudah untuk memakan hak orang lain. Infak juga merupakan ibadah yang mulia

                Infak merupakan investasi yang berlipat ganda, karena ia terus tumbuh dan berkembang ibarat ranting yang cabangnya terus tumbuh dan berkembang sebagaimana dijelaskan dalam Quran Surat Albaqarah ayat 245. Namun, tidak ada dosa bagi sahabat yang tidak mampu untuk berinfak harta ataupun lemah sehingga tidak dapat ikut berperang. Sebagaimana dalam firman Allah : “Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) atas orang-orang yang lemah, orang yang sakit, dan orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada alasan apapun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS At-Taubah: 91)